Aroma tatal kayu jati dan minyak mesin lama selalu punya cara unik untuk menenangkan pagi di Kota Lama Semarang. Di tengah kepulan asap teh melati hangat, jemari Liman yang berkerak ampelas sibuk menata roda-roda gigi kuningan. Sebuah pendulum tembaga berayun pelan di hadapannya: tik… tak… tik… tak…
Bagi Liman, setiap jam dinding buatan tangannya bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan miniatur kehidupan. Ada masa ketika gigi-gigi itu saling mengunci dengan presisi, ada pula saat ketika pegasnya melonggar lalu berhenti.
Namun, ada satu jam kuno di pojok meja kerjanya yang tidak pernah berdetak lagi sejak dua puluh tahun lalu. Jam berdiri setinggi dua meter berukir jepara itu milik Aris, ayah kandungnya. Sejak Aris pergi melangkah keluar dari rumah tanpa pernah kembali—meninggalkan Liman yang masih berusia belas tahun dan ibu yang ringkih—Liman berjanji akan menyembuhkan jam itu. Ia yakin, jika pendulum itu kembali berayun, retakan dalam hidupnya akan tertutup rapat. Ia ingin membuktikan bahwa darah yang mengalir di nadinya adalah bukti bahwa ia tetaplah anak dari seorang Aris.
“Kau masih mengutak-atik kayu mati itu, Lim?”
Suara serak memecah keheningan bengkel. Pak Broto melangkah pincang seraya membawa piring seng berisi pisang goreng hangat. Pria tua berusia enam puluhan itu menyandarkan tongkat kerajinannya di sisi meja. Telapak tangannya yang kasar menyapu bahu Liman.
Liman tidak menoleh. Jemarinya tetap memegang obeng kecil. “Tinggal satu poros yang aus, Pak. Kalau ini terpasang, jam milik Ayah akan berdetak lagi.”
Pak Broto menyunggingkan senyum tipis, menyembunyikan batuk kecil yang belakangan sering menyiksanya. “Jam itu sudah kehilangan jantungnya sejak lama, Lim. Tapi kalau itu bikin hatimu tenang, teruskanlah. Jangan lupa makan pisangmu.”
Pak Broto bukan siapa-siapa. Dia hanya tetangga sebelah rumah yang dulu mendobrak pintu ketika ibu Liman mengembuskan napas terakhir di atas balai-balai. Pria tua bertubuh bungkuk itulah yang membiayai sekolah Liman, mengajarinya memegang ketam kayu, membalut lukanya saat jarinya tersayat pisau ukir, dan duduk bersamanya di selasar bengkel setiap kali hujan deras mengguyur Semarang.
Tetapi bagi Liman, ada satu ruang kosong di dadanya yang tidak pernah berhasil diisi oleh Pak Broto. Sebuah kebanggaan konyol tentang garis keturunan. Liman ingin diakui oleh Aris, pria berdarah sama dengannya, bukan sekadar menjadi anak angkat seorang tukang kayu miskin.
Gerimis menyapu jalanan beratap genteng tua ketika sebuah mobil hitam mengilap berhenti tepat di depan bengkel. Seorang pria paruh baya berkemeja sutra turun, dipayungi seorang sopir. Rambutnya kelabu, namun rahang tegaknya sangat familiar.
Dada Liman berdegup kencang. Jam di dinding seolah berhenti berdetak saat pria itu melangkah masuk, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan yang penuh debu kayu.
“Liman?” suara pria itu berat.
Liman berdiri mendadak, hingga obeng di tangannya terjatuh ke lantai kayu. “Ayah?”
Pria itu—Aris—tersenyum tipis, merentangkan tangan sejenak sebelum menepuk bahu Liman dengan canggung. Tidak ada pelukan hangat. Hanya aroma parfum mahal yang menusuk hidung, menggantikan bau tatal kayu yang biasa dihirup Liman.
“Kau sudah besar. Dan… kau masih meneruskan pekerjaan kayu ini?” mata Aris tertuju pada jam tinggi di pojok ruangan. Matanya berbinar. “Astaga, jam Grandfather ini masih ada?”
Liman mengangguk cepat, dadanya mendadak dipenuhi kebanggaan yang meletup-letup. “Aku memperbaiki mesinnya selama lima tahun, Yah. Aku tahu Ayah pasti kembali mengambilnya.”
Di sudut ruangan, Pak Broto keluar dari kamar dalam membawa nampan berisi cangkir teh. Langkahnya terhenti. Pria tua itu menatap Aris, lalu beralih menatap Liman yang matanya memancarkan binar yang tak pernah Pak Broto lihat selama puluhan tahun mengasuhnya. Pak Broto meletakkan cangkir itu pelan di meja, tanpa mengucap sepatah kata pun.
“Liman,” Aris berdeham, merengkuh bahu Liman menuju meja kerja. “Ayah datang bukan tanpa alasan. Perusahaan Ayah di Jakarta sedang membutuhkan suntikan modal cepat. Jam kuno itu… buatan maestro Eropa abad 19. Nilai koleksinya di balai lelang sangat tinggi. Ayah butuh jam itu sekarang.”
Liman terpaku. “Dijual?”
“Tentu saja. Untuk apa menyimpan barang tua yang mati? Uangnya bisa Ayah pakai untuk melebarkan bisnis, dan tentu saja… Ayah bisa membawamu ke Jakarta. Kau tidak perlu hidup memegang ketam kayu di tempat kumuh ini lagi.”
Kata-kata itu meluncur dengan amat mudah dari bibir Aris. Membawamu ke Jakarta. Kalimat itu menghantam Liman bagaikan angin gending. Inilah pengakuan yang ia tunggu-tunggu selama dua puluh tahun. Pengakuan dari darah dagingnya sendiri.
“Tapi, Yah…” Liman melirik ke arah Pak Broto yang sedang menyapu sisa gergaji di sudut ruangan, punggungnya kian bungkuk, napasnya terdengar memburu dan berat.
“Pikirkan baik-baik, Liman,” bisik Aris seraya menyelipkan kartu nama berkertas tebal ke saku kemeja Liman. “Ayah tunggu di hotel sampai besok malam. Bawa jam itu, dan kita berangkat bersama.”
Malam jatuh dengan dingin yang menggigit. Bengkel kayu itu hening, hanya diselingi suara batuk Pak Broto yang semakin menjadi-jadi dari dalam kamar.
Liman duduk di hadapan jam kuno milik ayahnya. Obeng di tangannya bergetar. Tinggal menyetel satu roda gigi terakhir, dan jam itu akan hidup kembali. Namun, pikirannya terbelah. Di satu sisi, ada lambai tangan ayah kandungnya yang menawarkan impian lama. Di sisi lain, ada bayangan Pak Broto yang tadi sore diam-diam menyiapkan makan malamnya, meski tangannya gemetar menahan sakit.
Set!
Obeng Liman tergelincir, menggores kayu jati jam kuno itu.
“Liman…”
Liman menoleh. Pak Broto berdiri di ambang pintu kamar, bersandar lemah pada gawang kayu. Wajahnya pucat pasi dalam temaram lampu pijar.
“Kenapa belum tidur, Pak?” tanya Liman dingin, mencoba menutupi rasa bersalahnya.
Pak Broto berjalan perlahan, mendekati Liman. Pria tua itu tidak melihat ke arah jam kuno, melainkan menatap mata Liman dengan kedalaman yang belum pernah Liman pahami sebelumnya.
“Kalau kau mau pergi ke Jakarta bersama ayahmu… pergilah, Lim,” suara Pak Broto lirih, bersaing dengan deru angin malam di luar.
Liman terpaku. “Bapak bicara apa?”
“Bapak tua ini tidak punya apa-apa untuk ditawarkan padamu. Hanya bengkel reot ini,” Pak Broto tersenyum, garis-garis keriput di wajahnya membentuk peta kelelahan yang luar biasa. “Darah memang tidak bisa dibohongi. Ayahmu kaya, dia bisa memberimu masa depan.”
“Pak Broto—” ucap liman.
“Bapak cuma mau minta satu hal,” Pak Broto memotong, tangannya yang gemetar meraih jemari Liman yang berdebu ampelas, menggenggamnya erat. “Jangan pernah membenci waktu yang pernah kita lewati di bengkel ini. Bagi Bapak… setiap detik mengajarimu memegang kayu, adalah saat-saat terbaik dalam hidup Bapak yang tidak punya siapa-siapa ini.”
Pak Broto terbatuk keras, dadanya naik turun dengan payah. Sebelum Liman sempat membalas genggaman itu, tubuh tua Pak Broto mendadak limbung.
“Pak! Pak Broto!”
Liman menangkap tubuh itu sebelum menghantam lantai. Cangkir-cangkir kayu di meja bergetar. Dalam keremangan malam itu, Liman mendapati telapak tangan Pak Broto terasa begitu dingin.
Koridor rumah sakit daerah itu berbau karbol yang tajam. Dokter keluar dari ruangan gawat darurat dengan wajah lesu, menggeleng pelan di hadapan Liman.
“Jantungnya sudah terlalu lemah, Mas. Ditambah komplikasi paru-paru yang sudah parah. Kami tidak bisa menyelamatkannya.” ucap dokter menjelaskan.
Dunia Liman mendadak hening. Tak ada derak roda gigi, tak ada ayunan pendulum. Hanya garis lurus di layar monitor yang berdengung nyaring dalam kepalanya.
Liman melangkah masuk ke ruangan yang dingin itu. Di atas ranjang besi, Pak Broto terbaring kaku. Wajahnya tenang, seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan ukir yang panjang dan melelahkan. Liman berlutut di samping ranjang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Liman meraba jemari Pak Broto—jemari yang puluhan tahun memegang pahat demi membiayai makan dan sekolahnya. Jemari yang setiap malam mengoleskan minyak kayu putih di dadanya saat ia demam sewaktu kecil.
Liman teringat, tidak pernah sekalipun Pak Broto menuntut ucapan terima kasih. Tidak pernah sekalipun pria tua ini meminta Liman memanggilnya “Ayah”. Pria ini hanya hadir. Selalu ada. Menghabiskan sisa usianya di bengkel berdebu demi seorang anak yang bahkan tidak memiliki setetes pun darah yang sama dengannya.
Saku kemeja Liman bergetar. Ponselnya menyala. Sebuah pesan singkat dari Aris:
Liman, Ayah sudah di bandara. Mobil jemputan sudah di depan bengkelmu untuk mengambil jam kuno itu. Kau ikut sekarang atau Ayah tinggalkan.
Liman menatap layar ponsel itu, lalu menatap wajah damai Pak Broto.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah, membasahi kain sprei rumah sakit. Sebuah kesadaran menghantam dadanya begitu keras hingga ia sulit bernapas.
Ia telah menghabiskan seluruh hidupnya merawat jam tua yang mati, mengejar bayang-bayang seseorang yang hanya memandangnya sebagai pemilik barang berharga. Sementara di sisinya, ada seseorang yang memberikan seluruh sisa waktunya, kasih sayangnya, dan jiwanya tanpa pernah meminta imbalan—yang matanya terpejam selamanya saat Liman sibuk berpaling darinya.
Liman mengetik balasan dengan jemari bergetar:
Ambil saja jam itu. Aku tidak akan pernah ikut.
Pemakaman Pak Broto berlangsung sederhana di bawah langit Semarang yang redup. Hanya ada beberapa tetangga dan Liman yang berdiri di tepi liang lahat. Saat tanah merah perlahan menutupi papan kayu penutup makam, Liman menyadari betapa sepinya dunia.
Aris tidak pernah membalas pesannya lagi. Mobil jemputan itu mengambil jam kuno dari bengkel dan pergi tanpa jejak, meninggalkan Liman yang kini benar-benar sendirian. Ayah kandungnya telah kembali menjadi asing, persis seperti dua puluh tahun lalu.
Sore harinya, Liman berjalan gontai kembali ke bengkel kayu. Tempat itu terasa sangat luas dan hampa. Tidak ada lagi suara batuk yang menyambutnya, tidak ada aroma pisang goreng hangat, tidak ada derak tongkat kayu di atas lantai.
Liman duduk di balai-balai tempat biasa Pak Broto beristirahat. Ia memeluk lututnya dalam kegelapan yang perlahan merayap. Rasa bersalah, penyesalan, dan kesepian menyatu menjadi cengkeraman yang meremukkan dadanya.
Kepada siapa lagi ia harus bersandar?
Ayah kandungnya telah pergi mengejar harta. Pak Broto yang mengasihinya telah kembali ke tanah. Semua ikatan manusia yang ia genggam, yang ia kejar, yang ia rawat dengan susah payah… semuanya sirnah dalam sekejap mata. Manusia datang dan pergi, meninggalkan luka dan kerinduan yang tak terobati.
Dalam kehampaan yang tak menentu itu, Liman tertunduk makin dalam. Air matanya menetes ke atas lantai kayu. Di tengah sunyinya bengkel, dada Liman bergetar hebat. Ia tidak lagi memegang obeng, tidak lagi memegang pahat. Tangannya yang kosong perlahan terbuka di atas pangkuan.
“Ya Allah…” bisiknya lirih, suara yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia ucapkan dengan sungguh-sungguh dari kedalaman hatinya. “Ya Allah…”
Di dalam ruangan yang gelap itu, Liman bersujud di atas lantai kayu yang penuh tatal gergaji. Ia menumpahkan seluruh keputusasaan, seluruh penyesalan, dan seluruh kehampaannya kepada Satu-satunya yang tidak pernah meninggalkannya, bahkan saat ia melupakan-Nya.
Dalam sujud yang panjang itu, Liman merasakan sebuah ketenangan asing merayap pelan di dadanya. Sebuah kehangatan yang tidak bergantung pada kehadiran manusia mana pun. Ia menyadari sebuah hakikat yang selama ini tertutup oleh obsesi dan kebanggaan semutnya. bahwa di dunia ini, tidak ada satu pun ikatan makhluk yang benar-benar abadi.
Liman mengangkat kepalanya perlahan. Di dinding bengkel, jam-jam kayu buatan tangannya—yang dulu ia buat bersama Pak Broto—tetap berdetak teratur. Tik… tak… tik… tak…
Setiap detaknya kini tidak lagi terdengar seperti ratapan masa lalu, melainkan sebuah pengingat seruan waktu. Liman berdiri, berjalan ke arah tempat wudu di belakang bengkel, lalu menyapu air dingin ke wajahnya. Ia melangkah menuju sajadah tua milik Pak Broto di sudut ruangan, menyelaraskan hatinya dengan Sang Maha Kekal.
Tali hubungan itu dibentuk bukan hanya berdasarkan hubungan darah, namun karena kasih sayang dan waktu yang diberikan untuk membinanya. Dan hubungan makhluk bersifat fana, yang kekal hanya hubungan hamba dan Tuhannya.
