Aroma tatal kayu mahoni dan minyak linseed selalu menjadi cara terbaik bagi Baskara untuk menandai pagi. Di bengkel kerjanya yang beratap seng gelombang—tersembunyi di sudut pinggiran Yogyakarta—jemarinya yang kasar menelusuri lekuk gading pada badan sebuah gitar akustik. Ia bisa merasakan denyut urat kayu, mengetahui persis di bagian mana alat pahatnya harus berhenti bergeser setengah milimeter agar suaranya tidak mati.
Baskara menyukai kesendirian itu. Sampai layar telepon genggam di atas meja kerjanya menyala, menampilkan deretan pemberitahuan yang tak pernah benar-benar ia undang.
Gilang memasang foto baru: Penthouse berlatar cakrawala Jakarta.
Aris membagikan video: SUV keluaran terbaru dengan keterangan “Hasil kerja keras tidak pernah mengkhianati.”
Baskara menatap ibu jarinya yang bernoda cat. Dulu, mereka bertiga duduk di bangku kuliah yang sama, membagi sepiring nasi kencing di emperan toko. Kini, garis hidup seperti ditarik oleh dua tangan yang berbeda. Gilang sudah menjadi direktur pemasaran di ibu kota, sementara Aris baru saja membuka cabang restoran ketiganya. Setiap kali Baskara membuka aplikasi berikon warna-warni itu, dada kirinya seperti dihantam godam tumpul. Ada rasa memar yang halus, namun terus menerus berdenyut.
Bukan karena ia tidak menyukai pekerjaannya. Ia mencintai setiap sentimeter kayu yang ia bentuk. Namun, minggu lalu saat reuni kecil di kota, cara Aris menepuk bahunya—dengan jam tangan emas yang menyilaukan—meretakkan sesuatu di dalam dirinya.
”Masih betah di bengkel tua itu, Bas? Zaman sekarang kalau cuma bikin dua gitar sebulan, kapan punya asetnya? Paling tidak, ubah gaya hidupmu sedikit biar klien kelas atas mau lirik,” ujar Aris malam itu, diiringi tawa tipis teman-teman yang lain.
Kalimat itu menempel seperti jelaga.
Kesempatan itu datang dua minggu kemudian dalam wujud seorang pria berstelan jas kasual tanpa lipatan: Pak Rendra. Pria itu datang menggunakan mobil serba hitam yang menyita perhatian seluruh warga gang.
”Saya ingin kamu membuat dua puluh unit gitar kustom untuk ekspansi studio musik saya di tiga kota besar,” kata Rendra seraya menyesap teh melati yang disajikan Baskara di atas cangkir seng berkarat. “Tapi ada syaratnya.”
Baskara menahan napas. Dua puluh unit berarti keuntungan yang cukup untuk merenovasi rumah orang tuanya, membeli mobil bekas agar ia tidak perlu kehujanan saat mengantar kayu, dan—yang paling mendasar—membuktikan kepada Aris dan Gilang bahwa ia tidak tertinggal.
”Apa syaratnya, Pak?”
Rendra mengedarkan pandangan ke sekeliling bengkel dengan tatapan menilai. “Proses pengerjaanmu terlalu lambat. Gunakan mesin pres pabrikan untuk membentuk bodi, dan pakai bahan kayu olahan komposit. Suaranya tidak akan beda jauh bagi awam. Yang penting, saya butuh logo studio saya tercetak besar di headstock, dan kamu harus selesai dalam dua bulan. Saya juga mau kamu buat akun media sosial baru, pakai pakaian yang lebih rapi, dan kita branding kamu sebagai ‘Maestro Muda’.”
Baskara menatap badan gitar mahoni di atas mejanya. Menggunakan kayu komposit dan mesin pres berarti membunuh jiwa dari instrumen itu. Gitar tidak akan bernapas; suaranya akan rata, datar, tanpa karakter.
”Tapi Pak, karakter suara gitar kayu solid yang dipahat tangan—”
”Baskara,” potong Rendra, suara dan tatapannya mendominasi ruangan sempit itu. “Orang tidak membeli suara di zaman sekarang. Mereka membeli cerita dan penampilan. Kamu mau tetap jadi tukang kayu di gang sempit ini selamanya? Lihat teman-teman seangkatanmu. Kamu tertinggal jauh. Saya menawarkan jalan pintas untuk naik kelas.”
Kata-kata Rendra menghantam titik terlemah dalam diri Baskara. Gambar-gambar di layar ponselnya mendadak berkelebat—deretan mobil mewah, liburan ke luar negeri, dan tatapan kagum orang-orang di kolom komentar.
Baskara mengepalkan tangannya di bawah meja. “Baik, Pak. Saya ambil penawarannya.”
Bulan-bulan berikutnya berjalan seperti siksaan yang terencana. Bengkel kayu Baskara yang tadinya tenang kini bising oleh deru mesin pengerut kayu otomatis. Debu komposit yang tajam dan berbau kimia menggantikan aroma harum minyak linseed.
Rendra tidak hanya mengatur kayu apa yang harus dipotong. Pria itu mulai mengatur segalanya.
”Rambutmu harus dipotong gaya undercut,” kata Rendra suatu sore, saat tim dokumentasinya datang untuk mengambil foto promosi. “Dan jangan pakai kaus lusuh itu saat mengambil video. Pakai kemeja linen ini. Kita butuh kesan aesthetic.”
Baskara menurut. Ia berdiri di depan kamera, memegang gitar dari kayu komposit yang belum selesai, menatap lensa dengan senyum yang dipaksakan. Setiap malam, akun media sosial barunya dipenuhi pengikut baru. Komentar-komentar pujian berdatangan. Aris bahkan meninggalkan jempol di salah satu unggahannya.
Namun, setiap kali Baskara mencoba memetik string dari gitar buatan mesin itu, hatinya mengkerut. Suaranya nyaring, tetapi dingin. Tidak ada hangatnya kayu mahoni tua yang dikeringkan dengan angin malam.
Puncaknya terjadi pada minggu keenam. Pak Rendra datang bersama seorang kolega bisnisnya.
”Ubah bagian fretboard-nya menjadi warna hitam pekat,” perintah Rendra tiba-tiba saat memeriksa hasil kerja Baskara.
”Pak, kalau disemprot cat hitam tebal, serat kayu rosenya tidak akan kelihatan dan respons senarnya akan berubah berat,” protes Baskara, mencoba mempertahankan sisa keahliannya.
Rendra menatap Baskara dingin. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan dompet kulit, lalu meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja kerja Baskara.
”Saya yang bayar, Baskara. Kamu tinggal ikuti perintah. Ingat, tanpa investasi dan nama besar saya, kamu cuma tukang kayu yang tidak dilirik siapa pun. Jangan mengajari saya soal estetika pasar.”
Rendra melambaikan tangan, memintanya segera bekerja, lalu berbalik membelakangi Baskara untuk berbicara dengan koleganya tentang nilai saham.
Baskara berdiri terpaku. Matanya tertuju pada lembaran uang di atas meja kerja, lalu beralih pada bayangannya sendiri di kaca jendela yang kotor. Pria di dalam kaca itu memakai kemeja linen mahal yang kaku, rambutnya tersisir rapi, tetapi matanya redup—seperti kayu mati yang terendam air busuk.
Ia teringat malam-malam ketika ia duduk di bengkel ini hingga pukul dua pagi, meneliti pola serat kayu, sendirian, tanpa kamera, tanpa penonton. Saat itu, ia miskin menurut standar Aris atau Gilang. Namun, saat itu, setiap sisa tatal kayu yang jatuh ke lantai adalah miliknya. Keputusannya adalah miliknya. Tangannya adalah pemegang kendali atas apa yang ingin ia ciptakan.
Kini, demi pengakuan dari orang-orang yang bahkan tidak pernah benar-benar mengenalnya, ia telah menyewakan tangannya, jiwanya, dan seluruh standar hidupnya kepada seorang Rendra. Ia membiarkan hidupnya dikendalikan hanya karena takut dianggap kurang.
Baskara berjalan perlahan mendekati meja. Tangannya yang gemetar mengambil alat pahat manual yang sudah berminggu-minggu berdebu di sudut ruangan.
Ia menghampiri salah satu gitar komposit setengah jadi yang dipesan Rendra. Dengan satu gerakan mantap, ia menancapkan mata pahat itu tepat di tengah badannya, menggoreskannya dalam-dalam hingga bahan olahan itu terbelah dan rusak.
Suara keretakan itu memecah kebisingan bengkel. Rendra berbalik dengan wajah merah padam.
”Apa-apaan yang kamu lakukan, Baskara?!” teriak Rendra histeris. “Kamu gila?!”
Baskara menarik napas panjang. Anehnya, udara yang masuk ke paru-parunya terasa jauh lebih lega daripada beberapa bulan terakhir. Ia mengumpulkan seluruh lembaran uang di atas meja, termasuk uang muka pengerjaan, lalu melangkah mendatangi Rendra.
Baskara meletakkan tumpukan uang itu tepat di dada Rendra.
”Batalkan kontraknya, Pak,” kata Baskara. Suaranya tidak keras, tetapi ada ketegasan yang tak teroyahkan di sana.
”Kamu akan menyesal! Kamu tidak akan jadi siapa-siapa tanpa saya! Kamu mau kembali jadi orang miskin yang tidak dilirik orang?!” ancam Rendra dengan nada merendahkan.
Baskara menatap pria di hadapannya itu, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum tulus pertama yang muncul di wajahnya dalam bulan-bulan belakangan ini.
”Saya mungkin tidak punya mobil mewah atau ribuan pengikut, Pak,” ujar Baskara pelan. “Tapi di bengkel ini, saya yang menentukan garis mana yang harus dipahat. Dan itu tidak bisa Bapak beli dengan uang.”
Rendra menatap Baskara dengan tatapan tidak percaya, lalu mengutak-atik telunjuknya dengan marah sebelum akhirnya menyambar uang di tangannya dan pergi meninggalkan bengkel dengan dentuman pintu mobil yang keras.
Malamnya, hujan turun deras membasahi atap seng bengkel. Suara gemercik air yang beradu dengan logam menciptakan irama yang menenangkan.
Baskara menghapus aplikasi media sosial dari ponselnya. Layar hitam itu kini hanya memantulkan bayangan wajahnya sendiri—tanpa filter, tanpa manipulasi. Ia lalu mengambil sebilah kayu mahoni solid yang tersisa di sudut ruangan. Kayu itu tidak sempurna; ada nodanya di beberapa bagian, tetapi seratnya jujur dan kuat.
Dengan perlahan, Baskara mulai meraut permukaan kayu itu menggunakan ketam manual. Serutan demi serutan tipis jatuh ke lantai, mengeluarkan aroma khas kayu hangat yang sangat ia rindukan. Tidak ada kamera yang merekam. Tidak ada tenggat waktu yang mengejar. Tidak ada standar orang lain yang harus ia penuhi.
Ia hanya butuh seperangkat alat pahat, sepotong kayu yang jujur, dan kedamaian di dalam dadanya. Di ruang sempit yang riuh oleh suara hujan itu, Baskara akhirnya menemukan kembali dirinya sendiri—seutuhnya.
