Lampu panggung berdaya ribuan watt itu menyengat tengkuk Reno. Asap dry ice membubung tipis, membawa aroma khas minyak wangi murahan dan debu lapangan kelurahan yang berpadu dengan udara malam Jawa Timur yang gerah. Di hadapannya, ribuan pasang mata bersorak, mengangkat telepon genggam dengan lampu kilat menyala seperti ribuan kunang-kunang di tengah kegelapan.
Reno memetik gitar akustiknya. Nada pembuka meluncur: intro lagu yang pernah ia tulis di atas meja kayu lapuk kontrakan sempit, empat tahun lalu.
Di sampingnya, seorang penyanyi perempuan mengambil napas dalam-dalam sebelum menyanyikan bait pertama. Suara perempuan itu merdu, namun bagi Reno, nada-nada itu bergetar di frekuensi yang salah. Itu bukan suara yang biasa mengisi rumpang melodi ciptaannya. Suara itu bukan milik Nawa.
Reno tersenyum tipis ke arah penonton, memainkan peran sebagai musisi profesional yang penuh energi. Namun di dalam rongga dadanya, ada sepetak ruang kosong yang sengaja dibiarkan berdebu.
Empat tahun sebelum panggung megaproyek ini berdiri, Reno hanyalah pemuda berpakaian kaos oblong kusam yang menggantungkan hidup dari panggung hajatan ke hajatan pernikahan desa. Dentam kendang dan petikan gitarnya sering kali tertutup riuh suara mesin disel genset.
Kala itu, Nawa hadir seperti angin segar di tengah terik kemarau. Perempuan bertubuh jangkung dengan senyum lebar itu selalu datang membawa botol air mineral hangat dan sapu tangan kumal untuk menyapu keringat Reno usai manggung.
”Lagu yang kamu ciptakan tadi bagus, Ren,” ujar Nawa suatu malam, duduk di atas kap motor bebek tua milik Reno yang diparkir di tepi sawah. Angin malam bertiup pelan, membelai rambut hitam Nawa yang terurai. “Hanya saja, nadanya terlalu tinggi di bagian ujung. Tenggorokanku hampir putus melayaninya.”
Reno terkekeh, memasukkan sisa rokoknya ke dalam kaleng bekas. “Lagu itu dibuat memang bukan untuk tenggorokan sembarangan, Wa. Lagu itu dibuat khusus untuk suaramu yang sengau-sengau merdu itu.”
”Sembarangan!” Nawa menepuk bahu Reno keras-keras, lalu tertawa lepas. Suara tawa yang kelak menjadi melodi paling menenangkan sekaligus paling menyiksa bagi Reno.
Di atas motor tua itu, mereka membagi piring nasi bungkus yang sama. Mereka membagi mimpi yang sama. Nawa ingin menyanyikan lagu-lagu ciptaan Reno di panggung-panggung besar luar kota, dan Reno bersumpah akan menjadi penabuh nada yang mengiringi setiap langkah Nawa menuju puncak.
Tahun kedua, mimpi itu mulai menunjukkan wujudnya.
Lagu duet yang mereka rekam dengan peralatan seadanya di kamar kontrakan meledak di media sosial. Video sederhana yang memperlihatkan Reno memetik gitar sambil menatap Nawa yang bernyanyi ditonton jutaan kali. Undangan manggung bertubi-tubi datang, bukan lagi di lapangan kelurahan, melainkan di stadion kota hingga studio televisi ibu kota.
Uang mulai mengalir. Pakaian mereka tak lagi kusam. Motor bebek tua berganti kendaraan roda empat yang nyaman. Namun, seiring berkembangnya skala panggung tempat mereka berdiri, jarak antara dua bahu yang dulu menempel erat di atas kap motor makin lama makin renggang.
Konflik pertama meledak di sebuah ruang gunggu studio televisi di Jakarta.
Reno duduk memegang draf kontrak rekaman solo dari produser ternama. Di depannya, Nawa sedang dirias oleh dua orang penata busana yang riuh membicarakan jadwal penampilan untuk bulan depan.
”Mereka ingin aku fokus bikin lagu untuk penyanyi lain juga, Wa,” kata Reno pelan, menunjukkan lembaran kertas itu. “Dan jadwal turnya clash dengan jadwal kolaborasi kita bulan depan.”
Nawa berhenti memoles bibirnya. Ia memutar kursi, menatap Reno melalui pantulan cermin. matanya lelah — lingkaran hitam tertutup bedak tebal.
”Kamu mau mengambilnya?” tanya Nawa. Suaranya tidak keras, tetapi dingin.
”Ini kesempatan besar untuk karierku sebagai komposer, Wa. Selama ini orang hanya kenal aku sebagai ‘pendamping’ Nawa di panggung.”
Nawa tersenyum sinis, ada rasa terluka yang tak bisa disembunyikan di balik tatapannya. “Oh, jadi selama ini kamu merasa cuma jadi pendampingku? Kamu pikir panggung-panggung kemarin itu cuma tentang aku?”
”Bukan begitu—”
”Aku butuh kamu di sampingku, Ren! Di panggung itu, aku cuma percaya sama kamu. Kalau kamu mulai jalan sendiri-sendiri, buat apa kita bangun semua ini dari bawah?” suara Nawa mulai meninggi, mengabaikan para penata rias yang mendadak bungkam.
”Aku juga punya arah yang ingin kutuju, Nawa! Aku bukan cuma pemetik gitar pendampingmu selamanya!” Reno menghempaskan draf kertas ke meja.
Hari itu, untuk pertama kalinya, melodi yang biasanya menyatukan mereka berubah menjadi simfoni kebisingan yang saling memotong.
Bulan-bulan berikutnya berjalan seperti siklus mesin yang kehilangan pelumas. Mereka tetap tampil bersama di depan kamera, tetap tersenyum dan saling bertatap mata saat menyanyikan lagu-lagu romantis ciptaan mereka. Penonton bersorak bangga melihat “pasangan impian” itu.
Namun di belakang panggung, ketika lampu kamera padam, mereka menjadi dua asing yang memendam lelah.
Reno makin sibuk di studio, mengejar ambisinya menjadi produser independen. Nawa makin larut dalam jadwal tur solo dan lingkar pertemanan baru di ibu kota. Ketika mereka bertemu, pembicaraan tak lagi tentang nada atau lirik lagu, melainkan tentang jadwal, potongan persentase honor, dan klarifikasi rumor media sosial.
Suatu malam di sebuah hotel di Yogyakarta, usai konser besar yang sukses memecahkan rekor penonton, Reno mendatangi kamar Nawa. Ia membawa dua bungkus nasi kucing yang ia beli di angkringan dekat stasiun — kebiasaan lama mereka setiap kali berkunjung ke kota itu.
Nawa membuka pintu. Ia masih mengenakan gaun panggung yang mewah, tampak anggun namun teramat asing.
”Aku bawakan nasi kucing favoritmu,” ujar Reno seraya mengangkat kantong plastik putih.
Nawa menatap kantong plastik itu sebentar, lalu menghela napas panjang. Ia tidak mengajak Reno masuk, hanya berdiri di ambang pintu.
”Aku sudah makan salad tadi di lounge, Ren. Lagipula jam segini aku harus menjaga berat badan untuk syuting klip besok.”
Reno menurunkan tangannya perlahan. Plastik berisi nasi hangat itu terasa sangat berat.
”Kita sudah makin jauh ya, Wa?” tanya Reno datar. Matanya menatap lurus ke dalam iris mata Nawa.
Nawa menyenderkan bahunya di bingkai pintu. Matanya berkaca-kaca, namun tidak ada tetes air mata yang jatuh. “Bukan jauh, Ren. Kita hanya tumbuh ke arah yang berbeda. Kamu ingin membangun kerajinanmu sendiri, dan aku ingin terbang lebih tinggi dengan caraku.”
”Tapi kita bisa terbang bersama, kan?”
”Tidak kalau salah satu dari kita merasa terbebani oleh sayap yang lain,” sahut Nawa pelan. Kalimat itu meluncur polos, namun menghantam dada Reno lebih keras dari dentam speaker konser mana pun.
Malam itu, tanpa ada pertengkaran hebat, tanpa ada makian atau bantingan pintu, mereka sepakat untuk menyelesaikannya. Mereka memutuskan untuk menyelesaikannya tepat ketika nama mereka sedang dipuncak kejayaan bersama.
Dua tahun berlalu sejak malam di Yogyakarta itu.
Dunia bergerak cepat. Publik sempat heboh saat rumor perpisahan mereka terbukti. Berita-berita infotainment memuat spekulasi, fans terbelah menjadi dua kubu, dan lagu-lagu duet lama mereka kembali memuncaki tangga lagu sebagai perayaan atas rasa patah hati kolektif.
Reno kini berdiri di tempat yang ia impikan: studio rekamannya sendiri di Ngawi, melahirkan musisi-musisi muda bakat baru. Ia tidak lagi sering manggung, lebih banyak berada di balik layar.
Sementara Nawa, namanya makin melambung tinggi. Wajahnya ada di papan reklame kota-kota besar. Ia menjadi ikon baru musik pop daerah, bersinar terang dengan auranya sendiri.
Reno mematikan televisi di ruang tamunya ketika berita tentang pernikahan Nawa disiarkan.
Nawa telah menemukan pelabuhan barunya — seorang pria yang bukan dari dunia musik, seorang pengusaha muda yang tampak tenang dan sanggup memberikan kedamaian yang tidak pernah bisa diberikan oleh kehidupan Reno yang serba berisik dan penuh ambisi.
Reno berjalan menuju beranda rumahnya. Angin malam Ngawi membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi. Ia mengambil gitar akustiknya yang sudah agak terkelupas catnya — gitar yang sama yang dulu dipetiknya di atas kap motor bebek tua.
Jarinya menari di atas dawai, memainkan lagu lama mereka. Tidak ada rasa benci. Tidak ada rasa penyesalan. Yang tersisa hanyalah kepasrahan yang hangat dan rasa syukur karena pernah diizinkan berjalan bersama dalam sebuah babak kehidupan yang indah.
Reno sadar, tidak semua cerita cinta diciptakan untuk berakhir di pelaminan yang sama. Ada cinta yang ditakdirkan hanya untuk menjadi batu pijakan pendewasaan, sebuah simfoni indah yang harus berhenti di bait pertengahan agar masing-masing penyanyinya bisa menemukan lagu kehidupannya sendiri.
Dari jauh, Reno memetik nada terakhir lagu itu, membiarkannya bergema di udara malam yang sunyi, merelakan setiap kenangan terbang bersama angin.
next post
