Bunyi serut kayu yang beradu dengan serat jati tua itu selalu berirama ganjil. Kadang terdengar seperti helaan napas panjang, kadang serupa rintihan yang tertahan di kerongkongan. Danu meniup serpihan tatal halus yang menempel di bilah pahatnya. Debu kayu beterbangan, berkilau keemasan disorot cahaya lampu minyak yang tergantung miring di kasau bengkel.
Di luar, angin laut pesisir utara berembus membawa bau garam dan gemuruh ombak yang menabrak tanggul pemecah batu. Namun di dalam bilik kecil itu, aroma getah jati dan minyak serpihan cendana menguasai udara. Di sudut ruang yang hanya disekat triplek rapuh, suara batuk kecil terdengar berulang.
Danu menghentikan ketukan palu kayunya. Ia menoleh perlahan. Dari celah tirai katun kusam, tampak tubuh kecil Maryam yang terbaring meringkuk berselimut kain sarung lusuh. Di samping bantal putrinya, tergeletak tiga botol kaca obat pereda nyeri yang cairannya telah surut hingga ke dasar.
Danu menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa nyeri, bukan karena paru-parunya terpapar debu gergaji selama puluhan tahun, melainkan karena batas waktu tiga hari yang diberikan dokter klinik kecamatan terus berdengung di kepalanya. Maryam harus dibawa ke rumah sakit kota untuk operasi saluran pernapasan. Biayanya bukan angka yang bisa ditambal dengan menjual sekarung gabah atau menjaring ikan teri di muara.
Satu-satunya harapan Danu tersandar pada mimbar setinggi dua meter yang berdiri tegak di tengah bengkel. Pesanan sebuah yayasan pesantren besar di seberang pulau. Jika ornamen kaligrafi dan sulur dedaunan itu selesai sebelum akhir pekan, sisa pembayaran akan cukup untuk membawa Maryam menaiki ambulans pertama ke kota.
Tangan kanan Danu kembali terangkat, memegang gagang pahat melengkung. Namun jemarinya bergetar. Sendi-sendi jari tengah dan telunjuknya membengkak kemerahan akibat radang yang sudah menggerogoti bertahun-tahun. Ketika ia mencoba menekan mata pahat ke permukaan kayu jati yang keras, ngilu yang tajam menusuk hingga ke siku. Pahat itu tergelincir, menggores sebaris pola ukir yang belum tuntas.
Danu memejamkan mata rapat-rapat. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, jatuh menetes ke atas kayu kering.
Dalam kegelapan di balik pelupuk matanya, bibir Danu bergerak. Tanpa suara yang keras, hanya desau pelan yang meluncur di sela napas:
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammad, wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammad.
Bukan sebuah permohonan yang menuntut, melainkan sebuah helaan napas yang bersandar. Sejak masa mudanya—sejak ayahnya mengajarinya memegang kapak perimbas dan tatah ukir—gerakan bibir itu tidak pernah berhenti. Saat membelah balok gelondongan, saat memilah serat kayu, bahkan saat ia duduk termenung di samping makam istrinya tujuh tahun lalu, sholawat itu telah menjadi detak kedua dalam tubuhnya. Seperti ombak yang tak pernah menolak pantai, alunan itu mengalir otomatis setiap kali rasa cemas mencoba meremukkan dadanya.
Pukul dua dini hari. Angin malam semakin dingin, menusuk pori-pori kulit melalui celah dinding papan.
Danu kembali mengarahkan pahatnya. Kali ini ia tidak mengandalkan kekuatan otot lengannya yang mulai layu, melainkan ritme napasnya sendiri. Setiap ketukan martil kayu ke pangkal pahat mengikuti irama shalawat yang ia dawamkan. Allâhumma… satu cungkilan serat terlepas. Shalli ‘alâ… lekukan daun terukir halus. Sayyidinâ Muhammad… serbuk jati terlempar pelan.
Maryam terbangun dan memanggil lemah dari balik kelambu.
Danu meletakkan peralatannya, menyeka tangannya yang berdebu pada celemek kain, lalu melangkah cepat ke bilik tidur. Ia duduk di tepi dipan bambu, meraba kening putrinya. Panasnya belum turun.
“Bapak belum tidur?” bisik Maryam dengan bibir pucat kering.
“Tinggal sedikit lagi, Nduk. Bagian kubah atas mimbar hampir selesai,” jawab Danu seraya mengusap helaian rambut putrinya yang basah oleh keringat dingin. “Kalau besok pagi Pak Haji Hasan datang memeriksa, mimbar ini sudah bisa diangkut ke pelabuhan.”
Maryam menatap mata ayahnya yang merah dan cekung karena kurang tidur. “Maryam sering dengar Bapak bisik-bisik waktu menatah kayu. Bapak sedang bicara dengan siapa?”
Danu tersenyum tipis, sebuah senyum yang berusaha keras menyembunyikan kerapuhan. “Bapak sedang menyapa kekasih Allah, Nduk. Supaya tangan bapak yang kaku ini diberi kelembutan. Supaya hati bapak tidak patah waktu melihat kayu yang begitu keras.”
Maryam tersenyum samar, lalu memejamkan mata kembali, seolah menemukan rasa aman dari ketukan pelan doa ayahnya. Danu menyelimuti pundak putrinya lebih rapat, lalu kembali ke hadapan kayu jatinya.
Matahari terbit membawa kabut tipis dari arah laut, namun fajar itu tidak membawa kelegaan bagi Danu.
Tepat pukul sembilan pagi, sebuah mobil hitam berhenti di depan bengkel kayu beratap seng tersebut. Pak Haji Hasan, pengurus yayasan yang memesan mimbar, turun didampingi dua orang utusan dari kota. Pria paruh baya bertubuh tegap itu melangkah masuk dengan wajah berkerut, menatap tumpukan kayu dan mimbar yang berdiri di tengah ruangan.
“Bagaimana, Danu? Hari ini batas akhirnya. Truk pengangkut sudah menunggu di jalan utama,” ujar Haji Hasan tanpa basa-basi.
Danu membungkuk hormat, menunjuk mimbar yang sudah berdiri tegak. Ukiran sulur dan ornamen melengkung di sisi kanan dan kiri tampak megah, namun di bagian puncak mimbar—tempat kaligrafi utama bertengger—masih tersisa bidang kosong yang belum tersentuh pahat. Tangan Danu yang bengkak semalam tidak sanggup merampungkan lingkaran mahkota mimbar.
“Tinggal bagian mahkota ini, Pak Haji. Beri saya waktu sampai ashar nanti. Saya mohon… tangan saya semalam sempat kaku,” Danu memelas, suaranya tercekat di tenggorokan.
Haji Hasan menggelengkan kepala dengan raut kecewa yang nyata. “Kamu tahu sendiri perjanjian kita, Danu. Kapal penyeberangan berangkat siang ini. Jika terlambat, peresmian gedung baru di pesantren batal menggunakan mimbar ini. Panitia di sana tidak bisa menerima barang yang belum tuntas.”
Salah satu pengiring Haji Hasan melangkah maju, memeriksa permukaan kayu yang belum selesai dipahat. “Ini tidak rapi jika dipaksakan selesai dalam hitungan jam. Kayu jati tua seperti ini butuh waktu berhari-hari untuk ukiran sehalus itu. Kita tidak bisa membawa barang setengah jadi.”
Haji Hasan menghela napas panjang, merogoh saku bajunya, lalu mengeluarkan amplop berisi sebagian kecil uang muka. “Kami harus mencari pengganti lain di pengrajin Jepara, Danu. Maafkan saya. Ini biaya ganti bahan yang sudah kamu beli, tapi sisa pelunasan tidak bisa kami berikan.”
Dunia di sekitar Danu seketika senyap. Suara deburan ombak di kejauhan lenyap, digantikan denging panjang yang menusuk kedua telinganya. Amplop tipis di atas meja itu tidak akan pernah cukup untuk menyewa ambulans, apalagi membayar ruang operasi Maryam.
“Pak Haji…” Danu mencoba meraih ujung baju Haji Hasan, namun kedua lututnya goyah. “Putri saya sakit keras. Saya mohon, beri saya waktu sampai matahari terbenam…”
Haji Hasan menatap Danu dengan pandangan iba bercampur ketegasan seorang penanggung jawab proyek. “Saya simpati dengan keadaanmu, Danu. Tapi amanah pesantren tidak bisa saya gadaikan. Maaf.”
Ketiga pria itu berbalik dan melangkah pergi. Deru mesin mobil terdengar menjauh, meninggalkan kepulan debu tanah yang perlahan turun kembali ke halaman bengkel.
Danu tersungkur di atas lantai tanah yang dipenuhi serbuk kayu.
Lututnya menempel pada tatal-tatal tajam, namun ia tidak merasakan sakitnya. Rasa dingin yang luar biasa merayap dari telapak kakinya naik ke dada. Semua usahanya, malam-malam tanpa tidur, tangan yang membengkak hingga berdarah—semuanya berakhir pada selembar amplop tipis yang bahkan tak cukup untuk membeli obat pereda nyeri sebulan.
Dari dalam bilik, suara batuk Maryam kembali terdengar, kali ini lebih sesak dan disertai rintihan lirih memanggil namanya.
Danu menundukkan wajahnya ke atas lantai, mencium aroma tanah bercampur debu jati. Air matanya menetes, membuat noktah gelap di atas serbuk kayu. Dalam kehampaan yang begitu pekat, tidak ada amarah yang tersisa untuk disuarakan. Otaknya buntu, tenaganya terkuras habis.
Namun, di tengah keputusasaan yang merontokkan segala daya pikirnya, kebiasaan yang telah mendarah daging selama puluhan tahun itu kembali bergerak sendiri. Tanpa diperintah akal, tanpa ada tuntutan meminta keajaiban, bibir Danu yang bergetar kembali merapalkan kalimat itu.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammad… wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammad…
Ia melafalkannya bukan lagi sebagai doa agar kayunya laku. Ia melafalkannya sebagai satu-satunya tali yang tersisa agar jiwanya tidak terseret ke dalam jurang kegilaan. Setiap suku kata sholawat yang keluar dari mulutnya terasa seperti air sejuk yang membasuh bara api di dadanya. Semakin ia tenggelam dalam lafal itu, getaran panik di tubuhnya perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang asing. Sebuah rasa pasrah yang begitu luas, di mana ia merasa bahwa dirinya, putrinya, dan seluruh semesta ini tidak pernah sedetik pun lepas dari genggaman Sang Pemilik Kehidupan.
Danu mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang sembab menatap mimbar setengah jadi di hadapannya.
Di saat itulah, sebuah ketukan terdengar di pintu depan bengkel yang terbuka.
Bukan Haji Hasan yang kembali. Berdiri di ambang pintu seorang pria tua mengenakan jubah putih sederhana dan serban hijau pudar yang melingkar di pundaknya. Wajahnya teduh dengan janggut putih yang rapi, membawa aura ketenangan yang membuat angin pantai yang terik mendadak terasa sejuk. Di belakangnya, berdiri seorang pemuda berbusana rapi yang memegang tas kulit.
“Assalamu’alaikum, wahai saudaraku,” suara pria tua itu terdengar begitu lembut, bergetar mengisi seluruh ruangan bengkel.
Danu terkesiap, buru-buru bangkit dan mengusap sisa air mata di pipinya. “Wa… wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Silakan masuk, Pak… maaf bengkel saya berantakan.”
Pria tua itu melangkah masuk tanpa alas kaki, mengabaikan serbuk kayu yang mengotori ujung jubahnya. Pandangannya langsung tertuju pada mimbar jati di tengah ruangan. Ia melangkah perlahan mengitari mimbar tersebut, jemarinya yang halus meraba permukaan kayu yang baru saja diukir Danu semalam.
Ketika jarinya menyentuh bagian yang belum tuntas, pria itu berhenti. Ia memejamkan mata sejenak, menghirup udara bengkel yang dipenuhi wangi getah kayu.
“Kayu ini dipahat bukan hanya dengan besi dan tenaga,” ucap pria tua itu perlahan, menoleh ke arah Danu dengan tatapan mata yang bening dan menusuk sanubari. “Ada kerinduan yang sangat dalam tertanam di setiap urat kayunya. Ada nama manusia paling agung yang dialirkan ke dalam serat-seratnya.”
Danu terpaku di tempatnya berdiri. Tenggorokannya tercekat, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
“Saya Kyai Mansur dari pesantren hilir,” lanjut pria tua itu tersenyum ramah. “Kami sedang membangun masjid baru untuk para santri yatim. Tadi pagi, saat saya sedang berdzikir di musala, hati saya tergerak begitu kuat untuk menyuruh santri saya mengemudikan kendaraan ke arah pesisir ini. Saya tidak tahu alasannya… sampai saya mencium wangi kayu dari bengkelmu ini dari pinggir jalan utama.”
Pemuda di belakangnya melangkah maju dan membuka tas kulitnya.
“Saya mencari mimbar untuk masjid kami,” kata Kyai Mansur lagi. “Dan ketika melihat mimbar ini, saya tahu mimbar inilah yang kami cari. Mimbar yang lahir dari tangan yang senantiasa basah dengan salam kepada Baginda Nabi.”
Danu menggeleng lemah, berusaha jujur di tengah gemuruh dadanya. “Tapi… mimbar ini belum selesai, Kyai. Bagian atasnya masih kosong. Pemesan sebelumnya membatalkannya karena saya gagal menyelesaikannya tepat waktu.”
Kyai Mansur tersenyum teduh, menggeleng pelan. “Ketidaksempurnaan buatan tangan manusia adalah tanda bahwa kita ini fakir di hadapan Allah. Justru bagian kosong ini akan kami biarkan apa adanya, sebagai pengingat bagi kami bahwa kesempurnaan hanya milik-Nya. Berapa yang kau butuhkan untuk melepas mimbar ini, saudaraku?”
Danu tidak mampu menyebutkan angka. Kepalanya tertunduk, air matanya kembali tumpah—kali ini bukan air mata keputusasaan, melainkan keharuan yang meremukkan kesombongan akalnya.
Melihat Danu terdiam dan mendengar suara batuk lirih dari bilik dalam, Kyai Mansur memberi isyarat kepada santrinya. Santri itu meletakkan sebuah amplop tebal berisi uang tunai di atas meja kerja Danu, jumlah yang jauh melampaui harga yang pernah disepakati dengan Haji Hasan, bahkan lebih dari cukup untuk biaya operasi terbaik bagi Maryam di rumah sakit provinsi.
“Bawalah putrimu berobat hari ini juga,” bisik Kyai Mansur seraya menepuk pundak Danu dengan lembut. “Mobil kami di depan bisa langsung membawa kalian ke kota sekarang. Mimbar ini biar santri-santri saya yang mengurus pengangkutannya nanti sore.”
Danu bersujud di atas tanah berdebu itu. Dalam sujudnya yang panjang, ia tidak lagi sekadar melihat jalan keluar dari masalah hidupnya, melainkan merasakan sebuah keagungan yang nyata. Sebuah pemeliharaan Ilahi yang membuktikan bahwa setiap helaan shalawat yang ia dawamkan selama bertahun-tahun dalam kesunyian tidak pernah terbang sia-sia. Sebelum kematian menjemputnya kelak, Allah telah memperlihatkan kepadanya sebuah kemuliaan tak terduga—bagaimana cinta kepada Rasul-Nya mampu membuka pintu-pintu takdir yang sebelumnya terkunci rapat oleh keterbatasan manusia.
مَنْ دَاوَمَ عَلَى الصَّلَاةِ عَلَى الحَبِيبِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَرَى مَا أَعَدَّهُ اللهُ لَهُ مِنَ الكَرَامَاتِ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الآخِرَةِ.
Barang siapa yang melazimi shalawat atas Al-Habib (Rasulullah), dia tidak akan mati sehinggalah dia melihat sendiri apa yang Allah sediakan untuknya daripada berbagai kemuliaan di dunia sebelum di akhirat.
— Kalam Imam Al-Zurqani
