Kabut tipis menggantung di punggung Bukit Padasan seperti kapas basah yang tersangkut di dahan akasia. Dari balik jendela kaca mobil dinas yang berdebu, Ilyas memandang lereng-lereng curam itu dengan kacamata berbingkai tipis bertengger di pangkal hidungnya. Di pangkuannya, sebuah laptop menyala menampilkan simulasi tiga dimensi kontur topografi dengan garis-garis isobar yang berdenyut anggun. Angka-angka koefisien infiltrasi, debit limpasan permukaan, dan gradien kemiringan berbaris rapi.
Bagi Ilyas, air adalah bahasa matematika. Ia bukan mistisisme, bukan pula ratapan musim kemarau para petani yang sering ia baca di koran lokal. Air hanyalah $Q = C \times I \times A$. Presisi. Terukur. Selama empat tahun mengantongi gelar magister hidrologi terapan dengan predikat terbaik dari ibu kota, Ilyas terbiasa membedah bumi dari meja kayu jati dan proyektor resolusi tinggi.
“Kita hampir sampai, Mas Ilyas,” kata Joko, staf lapangan kecamatan yang duduk di balik kemudi. Napas mobil bak terbuka itu tersengal-sengal menapaki jalan berbatu kapur yang menusuk ban. “Pak Usman sudah seminggu ini tidak pulang ke rumah. Beliau tidur di gubuk lereng atas.”
Ilyas menutup laptopnya dengan bunyi klik pelan. “Berapa lama orang tua itu mencangkul lereng itu sendiri?”
“Tujuh tahun, Mas,” sahut Joko, matanya lurus menatap tanjakan curam. “Sejak putranya meninggal karena kehabisan air bersih saat wabah muntaber melanda Girisari. Pak Usman bersumpah bukit cadas ini harus mengeluarkan mata air, bagaimanapun caranya.”
Ilyas mengembuskan napas pendek. Ada getar sinisme halus di sudut bibirnya. Tujuh tahun mencangkul bukit karst tanpa pemetaan seismik dan stratigrafi batuan adalah sebentuk kenaifan yang boros. Tindakan heroik yang romantis, pikir Ilyas, namun sepenuhnya dungu secara kalkulasi mekanika tanah.
Ketika mobil berhenti di ujung jalan buntu, bau debu kapur yang kering dan panas langsung menyergap rongga hidung. Udara Girisari terasa seperti udara yang diembuskan dari tungku pemanggang bata.
Di hadapan mereka, bentang bukit itu compang-camping. Parit-parit buatan tangan mengular di antara batuan gamping putih yang tajam, terhubung ke sebuah cekungan raksasa selebar lima belas meter yang tampak seperti mangkuk tanah kering yang retak-retak. Di dasar cekungan itu, seorang lelaki bertubuh liat dengan kulit sewarna tembaga bakar sedang mengayunkan cangkul bergagang jati.
Brak! Trang!
Mata cangkul beradu dengan batu cadas. Percikan api kecil melompat ke udara.
Pak Usman tidak mengenakan alas kaki. Telapak kakinya yang menebal seperti kulit kayu menjejak remah batu tajam tanpa gentar. Peluh membasahi kaos oblongnya yang penuh lubang kecil, mengalir deras menyusuri garis-garis keriput di wajahnya yang setegas pahatan kayu sonokeling. Di sampingnya, tumpukan bebatuan kapur tersusun menjadi tanggul darurat setinggi dada manusia.
“Pak Usman,” panggil Joko dari bibir tebing.
Lelaki tua itu berhenti. Ia menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan yang gemetar oleh kelelahan otot, lalu mendongak. Matanya merah, bukan karena amarah, melainkan karena berbulan-bulan terpapar silau sinar matahari yang memantul di bebatuan putih. Tatapannya bening, memancarkan sejenis keteguhan yang membuat Ilyas tersentak sejenak.
“Airnya ada di dalam perut bukit ini, Kang Joko,” suara Pak Usman serak dan berat, seolah berasal dari celah batuan itu sendiri. “Semalam tanahnya dingin. Tanda itu sudah dekat. Tinggal dua meter lagi ke samping, parit ini akan menyatu dengan jalur resapan.”
Ilyas melangkah menuruni lereng dengan hati-hati. Sepatu bot gunungnya yang masih mengilap tampak ganjil di atas debu putih yang beterbangan.
“Pak,” suara Ilyas terdengar datar, bersih dari emosi. “Usaha Bapak ini sia-sia.”
Pak Usman menoleh lambat-lambat. Matanya menatap pemuda berjaket bersih di depannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada kemarahan di wajah tua itu, hanya kelelahan yang teramat pekat.
“Siapa anak muda ini, Joko?” tanya Pak Usman tanpa menurunkan gagang cangkulnya.
“Ini Mas Ilyas, Pak. Ahli air dari balai riset provinsi. Beliau datang meninjau lokasi atas permohonan kepala desa.”
Ilyas merogoh tablet dari tas selempangnya, menggeser layar dan memperlihatkan peta kontur berwarna kepada sang petani sepuh. “Formasi bukit ini adalah karst terbuka dengan celah sekunder yang sangat tinggi. Batuan di bawah kaki Bapak memiliki porositas retakan, bukan porositas antar-butir. Setiap kubik air hujan yang masuk ke cekungan ini tidak akan pernah menggenang menjadi telaga. Air itu langsung terjun bebas ke sistem sungai bawah tanah sedalam tiga ratus meter, larut bersama kalsium karbonat, lalu hilang ke laut selatan.”
Ilyas menunjuk tanggul batu yang disusun Pak Usman. “Tanggul ini dibuat tanpa lapisan kedap air. Tanah lempung yang Bapak pakai untuk menutup celah cadas akan tergerus oleh erosi buluh (piping) dalam waktu kurang dari sepuluh menit begitu hujan deras turun. Tujuh tahun Bapak menggali, Bapak hanya sedang memindahkan debu.”
Pak Usman terdiam lama. Angin bukit berdesir kencang, menerbangkan ujung rambutnya yang memutih. Lelaki tua itu menunduk, memandangi cangkulnya yang matanya sudah rompang dimakan cadas.
“Nak,” bisik Pak Usman perlahan, suaranya tenang namun menghujam. “Aku tidak paham apa itu kalsium atau formasi karst yang kau sebut tadi. Tapi selama tujuh tahun ini, setiap kali aku mengayunkan cangkul, aku berniat membasahi tenggorokan anak-cucu desa ini agar tidak ada lagi yang mati kehausan seperti anakku.”
Pak Usman menatap lurus ke dalam bola mata Ilyas. “Kau punya gambar-gambar bagus itu di dalam kacamu. Kau tahu ke mana air itu lari. Tapi selama tujuh tahun warga Girisari meminum air keruh dari comberan di lembah bawah, di mana kau dan ilmumu berada?”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada tinggi, namun di telinga Ilyas, bunyinya laksana dentum meriam yang memecah kesunyian bukit.
Dada Ilyas mendadak sesak. Ia ingin membela diri—ingin mengatakan bahwa ia sibuk mempublikasikan jurnal internasional, menghadiri simposium di tiga benua, menyusun rekomendasi kebijakan untuk kementerian. Namun, di hadapan tapak kaki telanjang Pak Usman yang berdarah tertusuk pecahan cadas, seluruh tumpukan gelar dan kertas kerjanya mendadak terasa seringan abu rokok.
“Kau tahu jalannya air, tapi tanganmu tidak pernah menyentuh cadas,” lanjut Pak Usman sambil kembali menancapkan cangkulnya ke tanah. Brak! “Kalau kau hanya datang untuk menyuruhku berhenti tanpa memberi setetes air pun untuk desa ini, simpan saja gambar-gambarmu itu di dalam sakumu.”
Pak Usman tidak lagi memedulikan mereka. Bunyi logam beradu dengan batu kembali berirama di bawah terik matahari yang kian memanggang.
Ilyas berdiri membeku. Tenggorokannya tercekat. Angin panas menerpa wajahnya, membawa aroma keputusasaan yang bercampur dengan debu kapur.
Malam itu, Ilyas tidak bisa memejamkan mata di rumah dinas kecamatan. Lampu neon di langit-langit berdengung lirih. Layar laptopnya masih menampilkan model hidrologi Girisari.
Ia memperbesar peta geologi regional. Jari-jarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia memadukan data satelit penginderaan jauh, citra tahanan jenis tanah (geolistrik), dan laporan pengeboran sumur artesis peninggalan zaman kolonial yang tersimpan di arsip digital.
Menjelang pukul dua dini hari, matanya tertumbuk pada sebuah patahan minor di sisi barat laut bukit—tepat delapan ratus meter di atas cekungan yang digali Pak Usman.
Di sana, lapisan lempung kedap air (aquiclude) terjepit di antara dua lapisan gamping. Air hujan yang meresap dari puncak bukit tertahan di lapisan itu, membentuk kantung air terperangkap (perched aquifer). Air itu ada. Riil. Jaraknya hanya lima meter dari permukaan tanah pada titik patahan tersebut, tersembunyi di balik dinding batu padas yang rapat.
Jika dinding itu dibuka dengan kemiringan sudut empat puluh lima derajat dan dipasangi pipa pengarah berbronjong batu, debit air konstan sebesar delapan liter per detik akan mengalir secara gravitasi langsung ke pemukiman warga tanpa memerlukan pompa listrik tunggal pun.
Ilyas mematung menatap layar. Solusi itu ada di sana. Gamblang. Sempurna secara hidrodinamika.
Namun, cetak biru itu tidak akan bernilai satu sen pun jika hanya tersimpan di dalam memori komputernya.
Tiba-tiba, gemuruh rendah membelah langit malam. Kilat menyambar di kejauhan, disusul suara rintik hujan yang menghantam atap seng dengan ganas.
Hujan lebat pertama di awal musim penghujan telah tiba.
Ilyas tersentak. Ingatannya melesat pada tanggul batu darurat buatan Pak Usman di lereng bukit. Erosi buluh. Rembesan jenuh air. Jika debit hujan melebihi batas plastisitas tanah lempung yang menopang tanggul manual itu, lereng bukit akan runtuh dan menimbun gubuk tempat Pak Usman bermalam.
Tanpa sempat berganti pakaian, Ilyas menyambar jas hujan, lampu senter, dan sebuah linggis besi yang tergeletak di teras belakang kantor kecamatan.
“Mas Ilyas! Mau ke mana?!” teriak Joko yang terbangun oleh debuman pintu mobil.
“Ke bukit!” seru Ilyas di tengah deru hujan. “Pak Usman dalam bahaya!”
Mobil berguncang hebat menembus jalanan yang kini berubah menjadi kubangan lumpur kapur yang licin. Roda berputar di tempat beberapa kali sebelum akhirnya mesin mati total di lereng bawah. Ilyas melompat keluar, berlari menembus tirai hujan yang pekat.
Kakinya tergelincir berulang kali di atas bebatuan yang berlumur lumpur putih. Sepatu botnya robek, lututnya membentur karang runcing hingga darah hangat merembes membasahi celananya, namun rasa perih itu lenyap ditelan kepanikan.
Napasnya memburu, paru-parunya serasa terbakar ketika ia mencapai bibir cekungan.
Di dasar galian, di bawah sorotan lampu badai yang temaram, Pak Usman sedang bertarung gila-gilaan melawan arus air keruh. Air hujan yang tumpah dari tebing atas mulai memenuhi cekungan, namun alih-alih mengalir ke parit, air itu mendidih di dasar tanggul—tanda bahwa tanah di bawah susunan batu telah kehilangan daya kohesinya.
“Pak Usman! Keluar dari sana!” teriak Ilyas melawan deru badai.
Lelaki tua itu menoleh, tubuhnya basah kuyup, tangannya berusaha menahan runtuhan batu dengan karung-karung tanah yang segera hanyut disapu arus. “Airnya sudah datang, Nak! Sedikit lagi! Aku harus menahan dinding ini!”
“Tanggulnya akan runtuh! Struktur tanahnya labil!”
Ilyas meluncur menuruni tebing licin tanpa ragu. Lumpur menenggelamkan kakinya hingga sebatas betis. Ia meraih lengan kekar Pak Usman dan menariknya sekuat tenaga.
“Lepaskan! Tujuh tahun aku menunggu malam ini!” Pak Usman meronta, air mata dan air hujan bercampur di wajahnya yang pucat pasi.
“Airnya bukan di sini, Pak!” teriak Ilyas tepat di depan wajah lelaki tua itu, suaranya parau dan bergetar hebat. “Airnya di tebing barat! Di balik padas lempung! Jika Bapak mati di sini, siapa yang akan membawa air itu ke desa?!”
KRAAAK!
Suara retakan bumi berdentum mengerikan. Dinding cekungan sebelah timur amblas. Ratusan kilogram lumpur dan batuan longsor menerjang ke dasar. Ilyas membanting tubuhnya ke arah Pak Usman, mendorong lelaki tua itu ke ceruk tebing yang lebih tinggi tepat saat material longsoran mengubur tempat mereka berdiri semenit yang lalu.
Hening sejenak menyelimuti, hanya menyisakan gemericik air keruh yang mengalir cepat masuk ke celah runtuhan karst, lenyap tertelan ke dalam perut bumi yang gelap tanpa meninggalkan genangan sedikit pun.
Cekungan tujuh tahun itu musnah dalam sekejap mata.
Pak Usman terduduk lemas di atas batu padas yang basah. Kepalanya terkulai di atas dadanya. Bahunya berguncang hebat dalam tangisan tanpa suara yang memilukan. Tangannya yang kasar mencengkeram lumpur yang kini tak berarti apa-apa. Seluruh keringat, darah, dan tahun-tahun hidupnya telah ditelan kesia-siaan bumi yang culas.
Ilyas berlutut di samping lelaki tua itu. Napasnya terengah-engah. Jas hujannya telah robek, telapak tangannya lecet dan berdarah karena mencengkeram batu tajam.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Ilyas tidak memikirkan persamaan rumus atau kalkulasi di atas kertas. Ia merasakan sendiri dinginnya lumpur, pekatnya keputusasaan, dan getirnya pengorbanan tanpa arah.
Ia meletakkan linggis besi di pangkuan Pak Usman, lalu menggenggam tangan tua yang dingin itu.
“Bangun, Pak,” bisik Ilyas, suaranya kini tenang, kokoh, dan berakar kuat di dasar jiwanya. “Ilmu saya tahu persis di mana mata air itu bersembunyi. Tapi saya butuh kekuatan cangkul Bapak untuk membukanya.”
Pak Usman perlahan mengangkat kepalanya. Dalam keremangan fajar yang mulai merekah di balik sisa-sisa awan badai, ia melihat mata pemuda itu. Tidak ada lagi keangkuhan akademis di sana. Yang ada hanyalah tekad yang sama dengan yang ia miliki selama tujuh tahun ini, namun kini menyala dengan kepastian yang terang benderang.
Lelaki tua itu mengusap wajahnya yang berlumpur. Ia mencengkeram linggis besi itu erat-erat, lalu berdiri tegak di atas kedua kakinya yang kokoh.
“Tunjukkan jalannya, Nak.”
Tiga minggu kemudian, Bukit Padasan tidak lagi sunyi.
Puluhan warga Girisari berbaris di lereng barat laut. Di bawah arahan Ilyas yang kini berkulit gelap terpapar matahari dan bersandal jepit kusam, mereka menggali tanah pada sudut dan kedalaman yang presisi. Tidak ada lagi cangkul yang diayunkan secara acak. Setiap meter galian diperkuat dengan bronjong anyaman kawat dan lapisan lempung terpadatkan yang dipasang berlapis.
Ilyas berdiri di garis depan parit, mengayunkan palu godam bersama Pak Usman untuk memecah lapisan padas terakhir yang mengunci dinding aquiclude. Keringat Ilyas menetes membasahi tanah kapur yang sama dengan yang diinjak Pak Usman.
PRANG!
Padas kapur itu rekah.
Dari celah retakan selebar dua jari, semburan air dingin nan jernih memancar keluar dengan tekanan kuat. Air itu tidak lagi keruh oleh lumpur, melainkan bening berkilauan memantulkan cahaya matahari pagi.
Sorak-sorai warga meledak di udara bukit. Anak-anak berlarian menyambut aliran air yang meluncur deras menyusuri pipa-pipa bambu menuju bak penampungan utama di tengah desa.
Pak Usman berlutut di tepi mata air yang baru lahir itu. Ia meraup air dengan kedua belah tangannya yang penuh kapalan, membasuh wajahnya, lalu meminumnya dengan rakus. Air matanya menetes jatuh ke dalam aliran air yang jernih, larut menjadi doa yang akhirnya sampai ke tujuannya.
Ilyas berdiri di sampingnya, memandangi kedua telapak tangannya sendiri yang kini melepuh, tergores cadas, dan menghitam oleh lumpur tanah.
Ia tersenyum tipis. Jantungnya berdegup dengan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan dari tepukan tangan di ruang seminar mana pun di dunia.
Kini ia mengerti: ilmu yang hanya berdiam di dalam kepala adalah sebuah kegilaan yang arogan, dan keringat yang bercucuran tanpa arah pengetahuan adalah kesia-siaan yang memilukan; hanya ketika keduanya bersujud dalam satu tindakan nyata, kehidupan yang sejati akan memancar.
