Rasulullah Muhammad saw. adalah figur yang melampaui batas waktu, ruang, dan identitas. Jika kita hanya memandangnya sebagai milik kalangan tertentu, kita telah mengecilkan kebesaran dan keluasan ajarannya. Beliau adalah teladan universal, rahmat multiversal, dan puncak evolusi spiritual, yang telah lama digambarkan oleh para pemikir terdahulu. Menyelami keutuhan sosok Muhammad saw. adalah sebuah perjalanan reflektif yang mengajak kita untuk melihatnya sebagai milik semua, bukan hanya milik satu golongan semata.
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 21, Allah Swt. secara tegas menyebut bahwa pada diri Rasulullah saw. terdapat teladan yang baik bagi seluruh umat manusia.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ الْأٰخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا.
“Sungguh, pada diri Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Ini adalah pengakuan tertinggi dari Sang Pencipta bahwa Muhammad saw. adalah role model dan manusia ideal. Beliau bukanlah figur yang hanya dapat dijangkau oleh segelintir orang. Setiap manusia, terlepas dari profesi, posisi, atau latar belakangnya, dapat menemukan inspirasi dan jalan hidup yang lurus namun berwarna pada diri beliau. Teladan ini mencakup setiap dimensi kehidupan, dari hal-hal kecil sehari-hari hingga urusan-urusan besar kenegaraan.
Lebih dari itu, Muhammad saw. diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 107:
وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Konsep ini melampaui batas-batas kemanusiaan, mencakup seluruh semesta ciptaan-Nya. Muhammad saw. adalah personifikasi kasih sayang Tuhan yang membawa keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan multiversal. Ajaran yang beliau bawa tidak hanya ditujukan untuk kemaslahatan umat Islam, tetapi juga untuk seluruh makhluk. Beliau mengajarkan tentang perlindungan alam, keadilan sosial, dan hidup berdampingan dengan damai. Kemanusiaan beliau adalah cerminan rahmat yang mengalir ke setiap sudut kehidupan.
Pemikiran filsuf integratif seperti Mulla Sadra menawarkan cara pandang yang mendalam untuk memahami hakikat Muhammad saw. sebagai insan ilahi ataupun insan kamil (manusia sempurna). Dalam kerangka Harakah Jauhariyah (Gerak Substansial) dan Asfar Arba’ah (Empat Perjalanan) yang digagasnya, Muhammad saw. adalah sosok yang telah menuntaskan keempat perjalanan eksistensial: dari makhluk menuju Tuhan, kemudian menyatu dengan Tuhan, lalu kembali dari Tuhan ke makhluk untuk membawa cahaya Tuhan, dan akhirnya hidup di dalam makhluk bersama Tuhan. Beliau adalah pemuncak dari evolusi spiritual yang memungkinkan manusia mencapai kesadaran holistik, di mana ia mampu melihat realitas secara utuh dan terhubung. Ia adalah (pemandu) GPS Kosmik yang memetakan perjalanan kembali setiap jiwa menuju asalnya, sesuai dengan firman Allah pada QS. Al-Baqarah ayat 156:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ.
“Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali”
(Cek selengkapnya tulisan tentang ini di facebook.com/share/1B7paVjMue!)
Di sisi lain, kekuatan Muhammad saw. sebagai pemimpin dunia tidak hanya diakui oleh para pengikutnya, tetapi juga oleh tokoh-tokoh intelektual dunia lintas iman. Michael H. Hart menempatkannya di urutan pertama dalam daftar manusia paling berpengaruh sepanjang sejarah karena keberhasilannya yang spektakuler dalam aspek religius maupun sekuler. Beliau tidak hanya berhasil membangun komunitas spiritual yang kuat, tetapi juga mendirikan sebuah negara yang adil dan beradab.
Muhammad Afzalur Rahman melengkapi pandangan para pemikir dengan menyebut Nabi Muhammad saw. sebagai pribadi yang komplit dan paripurna. Beliau adalah sosok sempurna dalam segala dimensi kehidupan: sebagai Nabi yang membawa risalah, sebagai pribadi mulia yang santun, sebagai suami dan ayah yang penuh kasih, sebagai pendidik yang mencintai ilmu, sebagai negarawan yang bijaksana dan pengubah dunia, sebagai pebisnis yang sukses dan berintegritas, sebagai pemimpin sipil dan militer yang tangguh, sebagai hakim yang adil, hingga sebagai pejuang kemanusiaan yang tulus.
Dengan demikian, Muhammad saw. adalah teladan universal yang bisa diidolakan oleh siapa saja maupun kalangan mana saja, dalam profesi dan posisi apa pun. Seorang guru dapat meneladani beliau sebagai pendidik, seorang negarawan bisa mencontoh kepemimpinannya, seorang ayah dapat meneladani beliau sebagai kepala keluarga, bahkan seorang aktivis kemanusiaan bisa menemukan inspirasi dalam perjuangan beliau. Muhammad saw. bukanlah milik satu-dua golongan atau profesi tertentu. Muhammad saw. adalah milik semua. Bukan untuk diklaim dan didominasi, melainkan untuk diteladani bersama-sama, sebagai anugerah Tuhan bagi multisemesta.
