Tujuh hari telah berlalu sejak kabar itu datang dan menyebar dari satu ruang ke ruang lainnya. Namun bagi banyak orang di lingkungan Universitas Islam Zainul Hasan Genggong (UNZAH), waktu seolah berjalan lebih lambat.
Di sudut-sudut kampus, nama Assoc. Prof. Dr. Abd. Aziz, M.Ag. masih sering disebut. Di ruang rapat, di lorong fakultas, di antara percakapan para dosen, mahasiswa, alumni, dan keluarga besar pesantren. Sosok yang selama bertahun-tahun hadir mengawal perjalanan kampus itu kini telah tiada.
Pada Senin, 28 September 2026, Assoc. Prof. Dr. Abd. Aziz, M.Ag. wafat setelah menjalani sakit yang dideritanya. Kabar duka tersebut menyelimuti keluarga besar UNZAH Genggong, Pesantren Zainul Hasan Genggong, serta berbagai kalangan masyarakat yang mengenal kiprah dan pengabdiannya.
Kepergian beliau tidak hanya meninggalkan kekosongan pada sebuah jabatan. Banyak orang mengenangnya sebagai figur yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk pendidikan, pengabdian, dan perjuangan membangun lembaga.
Perjalanan pengabdian itu bukanlah perjalanan singkat. Di bawah kepemimpinannya, UNZAH terus bertumbuh dan memperluas jangkauan. Salah satu tonggak penting yang sering dikenang adalah ketika Sekolah Tinggi Agama Islam Zainul Hasan Genggong menjadi Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan (INZAH) dan kemudian beralih status menjadi Universitas Islam Zainul Hasan Genggong (UNZAH), sebuah capaian yang menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan perguruan tinggi tersebut.
Dalam tahun-tahun berikutnya, kampus ini semakin aktif membangun jejaring nasional dan internasional. Berbagai capaian akademik dan penghargaan berhasil diraih, termasuk penguatan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi berskala internasional yang membawa nama UNZAH semakin dikenal di luar daerah.
Bagi sebagian orang, capaian-capaian itu mungkin terlihat sebagai angka, penghargaan, atau laporan institusi. Namun bagi mereka yang pernah bekerja bersama beliau, cerita yang tertinggal justru lebih sederhana: tentang seseorang yang terus hadir di tengah kesibukan, mengawal program, menghadiri kegiatan, dan memastikan setiap langkah lembaga berjalan sesuai arah yang dicita-citakan.
Kesan itulah yang banyak muncul dalam berbagai ungkapan belasungkawa yang mengalir sejak hari pertama wafatnya beliau.
Kepala MA Zainul Hasan 1 Genggong, Nun Ahsan Maliki, mengenang almarhum sebagai sosok yang tidak mengenal lelah dalam berkhidmah. Menurutnya, banyak perjuangan yang telah diberikan untuk Pesantren Zainul Hasan dan dunia pendidikan. Ia menyebut bahwa almarhum tetap mengawal berbagai kegiatan dengan sungguh-sungguh meskipun memiliki banyak amanah yang harus dijalankan.
Ungkapan serupa juga datang dari berbagai tokoh organisasi dan masyarakat. Di lingkungan Nahdlatul Ulama, beliau dikenal sebagai sosok yang aktif dalam pengkaderan dan pengembangan pendidikan. Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan, KH. Hafidzul Hakim Noer, mengenang beliau sebagai pribadi yang memiliki pengabdian besar kepada masyarakat dan sangat peduli terhadap kemajuan dunia pendidikan. Salah satu perjuangan yang disebutkan adalah komitmennya dalam mendorong perkembangan UNZAH agar terus maju dan berkembang.
Tidak mengherankan jika ucapan belasungkawa datang dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari civitas akademika, tokoh pesantren, organisasi kemasyarakatan, hingga para alumni yang pernah merasakan sentuhan kepemimpinannya. Banyak yang menyebut beliau sebagai pejuang pendidikan, sebuah sebutan yang lahir bukan dari jabatan yang disandang, melainkan dari jejak pengabdian yang ditinggalkan.
Jejak itu terlihat dalam berbagai peran yang pernah diemban. Selain menjadi Rektor UNZAH Genggong, beliau juga mengemban amanah di berbagai lembaga pendidikan dan organisasi kemasyarakatan. Bahkan hingga masa-masa terakhir kehidupannya, beliau masih aktif menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Kini, tujuh hari setelah kepergian beliau, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang seorang rektor. Yang tersisa adalah cerita tentang seorang pendidik yang memilih menghabiskan hidupnya di dunia pendidikan. Cerita tentang seseorang yang menyaksikan kampus tumbuh dari masa ke masa dan ikut mengarahkan langkahnya menuju panggung yang lebih luas.
Bagi keluarga besar UNZAH Genggong, kehilangan ini tentu menjadi duka yang mendalam. Namun pada saat yang sama, warisan pemikiran, semangat, dan pengabdian yang telah ditanamkan menjadi amanah yang harus dilanjutkan.
Waktu mungkin akan terus berjalan. Mahasiswa baru akan datang, perkuliahan akan berlangsung, dan berbagai program kampus akan terus bergerak maju. Tetapi nama Assoc. Prof. Dr. Abd. Aziz, M.Ag. akan tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang UNZAH Genggong—sebagai sosok yang ikut mengantarkan kampus ini melangkah dari kancah lokal menuju jejaring yang lebih luas, bahkan hingga tingkat internasional.
Dan mungkin, itulah cara terbaik mengenang seorang pejuang pendidikan: bukan hanya dengan mengenang kepergiannya, tetapi dengan melanjutkan cita-cita yang pernah ia perjuangkan sepanjang hidupnya.
