CeritaRomansa

Sunyi di Ujung Laut Banda

Aroma kayu jati basah dan kertas tua selalu menjadi penawar paling ampuh bagi Aris. Di dalam ruangan beratap tinggi dengan jendela-jendela lengkung khas kolonial ini, tangannya cekatan mengusap debu dari sisa-sisa ukiran di pintu perpustakaan tua Banda Neira. Sebagai arsitek restorasi, tugas Aris sederhana: merawat apa yang tersisa, menahan waktu agar tidak meruntuhkan ingatan.

​Namun, sore itu, gesekan amplas di tangannya terhenti.

​Langkah kaki ringan bergema di lantai ubin bermotif geometris. Aris menoleh. Di antara pilar kayu yang lapuk, berdiri seorang wanita bergaun kain tenun cokelat pudar. Tangannya memegang sekumpulan lembaran naskah berdebu.

​”Penjilidan lamanya sudah lepas. Kita perlu perekat asam alami untuk menyelamatkannya,” suara itu pelan, teratur, dan sangat dihafal Aris.

​Renata.

​Aris berdiri, mengibaskan debu kayu dari celananya. “Aku sudah menyiapkan resin damar di meja belakang.”

​Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan. Hanya sepasang mata yang saling menatap selama beberapa detik—sebuah tatapan yang menyimpan percakapan panjang yang tak pernah sempat diucapkan selama delapan tahun.

​Di jari manis tangan kiri Renata, sebuah cincin emas polos memantulkan cahaya matahari sore yang mulai meredup.

​Malam di Banda Neira selalu diiringi nyanyian ombak dan desir angin yang menembus celah pepohonan pala. Di pelataran belakang perpustakaan yang menghadap langsung ke laut lepas, Aris dan Renata duduk berdampingan di atas bangku batu. Jarak di antara mereka hanya sejengkal, namun terasa seperti jurang yang dipagari hukum moral dan komitmen.

​Renata telah menikah enam tahun lalu dengan seorang pria pilihan keluarganya di Surabaya—seorang pengusaha berkepribadian santun yang tak pernah menyakitinya. Aris tahu itu. Ia tidak pernah mencoba merusak ketenangan itu. Sejak awal, mereka sadar bahwa garis hidup mereka berjalan di dua rel yang sejajar: selalu beriringan, pandangan selalu tertuju pada arah yang sama, tetapi tidak dirancang untuk saling bersilangan.

​”Kenapa kamu mengambil proyek di pulau terpencil ini, Ris?” tanya Renata halus, matanya menatap pendar lampu keramba di kejauhan.

​”Karena bangunan ini butuh seseorang yang mengerti cara mempertahankan bentuk aslinya tanpa merubah sejarahnya,” jawab Aris pelan. Ia menoleh sedikit, menatap profil wajah Renata yang diterangi cahaya bulan. “Dan mungkin… karena aku tahu ada naskah tua di sini yang perlu dirawat seseorang.”

​Renata tersenyum tipis. Jemarinya meremas kain gaunnya sendiri. “Naskah itu sudah rapuh, Aris. Jika dipaksa dibuka terlalu lebar, kertasnya akan robek.”

​”Aku tahu,” balas Aris. “Makanya aku hanya memperhatikannya dari dekat. Memastikan ia tidak makin rusak.”

​Mereka hening. Di antara desir angin laut, ada pemahaman yang tak tertulis. Cinta mereka tidak pernah diberi nama ‘hubungan’. Tidak ada kata jadian, tidak ada janji pernikahan, tidak ada panggilan sayang. Namun, setiap kali mereka berada di ruang yang sama, dunia di sekitar seolah meredup, menyisakan resonansi batin yang begitu kuat. Cinta itu hadir bukan dari status, melainkan dari kepenuhan jiwa yang saling mengenali.

​Seminggu berlalu dalam pola yang tenang namun intens. Pagi hingga sore, mereka bekerja dalam diam yang riuh. Aris mengukur ketebalan dinding dan mengganti kayu yang lapuk; Renata mengonservasi lembaran-lembaran kertas abad ke-19. Perbincangan mereka seputar sejarah, serat kertas, dan ketahanan kayu. Namun, di balik setiap kata yang terucap, ada perhatian mendalam yang saling tercurah.

​Suatu sore, hujan deras turun tiba-tiba. Angin kencang meniup dedaunan pala dan menghempaskan pintu kayu perpustakaan hingga terbuka lebar. Air hujan mulai masuk, mengancam tumpukan naskah kuno yang belum selesai dikonservasi.

​”Renata, awas!” seru Aris.

​Secara refleks, Aris berlari mendorong rak kayu besar sebelum air membasahinya, sementara Renata melompat menyelamatkan tumpukan kertas di meja. Dalam kepanikan kecil itu, tangan Aris secara tidak sengaja memegang jemari Renata yang dingin saat mereka bersamaan meraih poros naskah yang sama.

​Sentuhan itu hanya berlangsung dua detik.

​Sentuhan yang sederhana, tanpa hasrat liar, namun sanggup menghentikan napas keduanya. Ada getaran hebat yang terpancar—seseorang seperti menemukan bagian dari dirinya yang hilang selama bertahun-tahun. Mata mereka bertemu. Di sana, di balik tatapan Renata, Aris melihat kerinduan yang sama besarnya dengan yang ia seret setiap malam dalam doanya. Kerinduan yang tak menuntut, tapi abadi.

​Aris perlahan menarik tangannya kembali. Ia mundur satu langkah, memberikan penghormatan pada batas yang harus dijaga.

​”Maaf,” gumam Aris.

​Renata menggeleng pelan, napasnya sedikit memburu. “Jangan minta maaf. Aku… aku justru takut, Ris.”

​”Takut pada apa?”

​”Takut bahwa perasaan ini tidak pernah berkurang sedikit pun, meski tahun-tahun berlalu dan benua memisahkan kita.” Renata menatap cincin di jarinya, lalu menatap Aris kembali. “Aku mencintai suamiku dengan rasa hormat dan tanggung jawab. Tapi denganmu… aku merasa tidak perlu menjadi siapapun. Aku hanya perlu ada.”

​Aris menatap wanita di hadapannya dengan kelembutan yang dalam. “Kita tidak perlu merusak apa yang sudah ada, Ren. Rasa ini tidak butuh status untuk tetap hidup. Ia sudah ada di dalam sini,” Aris menyentuh dada kirinya sendiri. “Dan tidak ada yang bisa mengambilnya dari kita, bahkan jarak.”

​Renata tersenyum, kali ini dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mengangguk paham. Cinta mereka telah melampaui kebutuhan akan kepemilikan fisik.

​Dua hari kemudian, Renata harus bertolak ke Pulau Banda Besar untuk memeriksa arsip lokal di sebuah gereja tua. Ia harus naik perahu motor tradisional menyeberangi selat sempit yang terkenal memiliki arus kuat.

​Pagi itu, cuaca agak mendung. Aris mengantar Renata sampai ke dermaga kayu kecil.

​”Lautnya agak bergelombang hari ini,” ujar Aris sambil memperhatikan riak air yang berwarna biru pekat.

​”Hanya lima belas menit menyeberang, Ris. Kapten perahu sudah terbiasa,” jawab Renata sambil tersenyum. Ia mengenakan syal rajut warna krem yang dulu pernah dihadiahkan Aris saat mereka masih menempuh pendidikan strata satu di Yogyakarta.

​Aris memandang syal itu, lalu menatap mata Renata. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba merayap di dadanya—sebuah ganjalan yang tak mampu ia jelaskan dengan logika.

​”Hati-hati, Ren,” ucap Aris, suaranya lebih berat dari biasanya.

​Renata melangkah naik ke atas perahu. Sebelum perahu melaju, ia menoleh kembali ke arah Aris yang berdiri di ujung dermaga. Renata tidak melambaikan tangan, ia hanya meletakkan tangan kanannya di dada, tepat di atas hatinya, dan mengangguk pelan. Aris membalas gerakan itu dengan cara yang sama.

​Itu adalah bahasa rahasia mereka: Aku melihatmu, aku menjagamu dari jauh.

​Perahu motor itu mulai membelah ombak, bergerak menjauh menuju tengah selat. Aris tetap berdiri di sana, memperhatikan bayangan perahu yang kian mengecil di antara kabut tipis.

​Satu jam berlalu. Aris kembali ke perpustakaan untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun, fokusnya buyar. Tangannya gemetar saat memegang pahat kayu.

​Tiba-tiba, suara teriakan riuh terdengar dari arah dermaga. Suara sirine kapal nelayan bersahut-sahutan di udara. Aris melompat dari perancah kayu dan berlari keluar.

​”Ada apa?!” tanyanya pada seorang warga lokal yang berlari terburu-buru.

​”Badai mendadak menghantam selat dekat Pulau Kraka, Mas! Perahu penumpang dari kota terbalik dihantam gelombang!”

​Jantung Aris seolah berhenti berdetak. Darah di tubuhnya terasa membeku seketika. Tanpa berpikir panjang, ia berlari kencang menuju dermaga di bawah guyuran hujan yang mendadak turun dengan lebatnya.

​Tiga hari pencarian di laut Banda terasa seperti keabadian yang menyiksa. Aris tidak tidur, tidak makan. Ia duduk di posko pencarian bersama tim SAR dan warga lokal, matanya menatap kosong ke arah laut yang kini kembali tenang, seolah tak pernah menelan korban.

​Pada hari ketiga, jenazah Renata ditemukan di dekat perairan pulau tak berpenghuni, masih mengenakan syal krem yang kini basah dan terikat kuat di lehernya.

​Saat Aris berdiri di tepi pantai, melihat kantong jenazah ditarik ke daratan, tidak ada jeritan melengking dari mulutnya. Tidak ada air mata yang mengalir deras. Duka yang dirasakannya terlalu dalam untuk diungkapkan dengan tangisan. Dada Aris terasa hampa, seperti sebuah bangunan megah yang runtuh dalam sekejap, menyisakan puing-puing sunyi.

​Suami Renata tiba dari Surabaya malam itu. Pria itu menangis histeris saat mengidentifikasi jenazah istrinya. Aris berdiri jauh di sudut ruangan rumah sakit daerah, memperhatikan dari kegelapan. Ia tidak maju untuk meratapi, tidak pula meminta hak untuk melihat wajah Renata terakhir kalinya.

​Aris tahu tempatnya. Ia tahu batasannya.

​Saat peti kayu Renata diangkat untuk dimasukkan ke dalam kapal kargo menuju Surabaya, Aris berjalan perlahan menuju dermaga tempat mereka terakhir kali berpisah. Hujan gerimis menyiram tubuhnya, namun ia tak peduli.

​Aris duduk di ujung dermaga kayu. Ia mengangkat tangan kirinya, meletakkannya di atas dada—di tempat yang sama saat Renata menatapnya tiga hari lalu.

​Di sanalah, di tengah kesunyian Laut Banda dan deru angin malam, Aris menyadari sesuatu. Rasa sakit karena kehilangan fisik itu memang mencabik-cabik raganya, tetapi di kedalaman jiwanya, ada kedamaian yang aneh. Perasaan yang ia miliki untuk Renata tidak hilang bersama nafas wanita itu. Justru, rasa itu kini menjadi murni, bebas dari segala batasan duniawi, jarak, dan komitmen moral.

​Tidak akan ada lagi rasa bersalah. Tidak akan ada lagi ketakutan akan norma. Renata kini menetap secara utuh di dalam ingatannya, di dalam aliran darahnya.

​Aris memejamkan mata. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membisikkan sebuah doa ke udara malam—doa yang ia tahu akan sampai ke tempat Renata berada sekarang. Doa agar wanita itu diberikan kedamaian abadi di sisi Sang Pencipta, doa yang akan terus ia ulang di setiap sujudnya sepanjang sisa hidupnya.

​Di bawah langit Banda yang gelap, Aris akhirnya memahami hakikat dari apa yang telah mereka jalani selama ini.

​Cinta yang tak dipertemukan oleh hubungan. Namun ketika bertaut, ia hanya bisa dipisahkan oleh kematian. Kemudian ia saling mendoakan.

Author

Related posts

Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai adalah karya Boy Candra.

nabila

He’s My Boyfriend – Thyfaa_hn

Nuriyah
error: Content is protected !!